Etika Membaca,Belajar & Mengajar Al quran
Makalah Mata Kuliah
Studi Al quran
Dosen Pengampu:
Prof.Dr.Moh.Ali Aziz,M.Ag
Asisten Dosen:
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
Disusun Oleh:
Laila Anindhita Abidah
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan.
Terima kasih juga Saya ucapkan kepada teman-teman yang telah
berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.
Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para
pembaca. Namun terlepas dari itu, Saya memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga Saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik
lagi.
Surabaya, Agustus 2019
Laila Anindhita Abidah
Daftar
isi
KATA PENGANTAR........................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah................................................................... 1
C.
Tujuan..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Etika Terhadap Al-Qur’an....................................................... 3
B.
Adab Membaca Al-Qur’an...................................................... 5
C.
Keutamaan Membaca Al-Qur’an............................................. 9
D.
Belajar Al-Qur’an.................................................................... 9
E.
Keutamaan Mengajarkan Al-Qur’an..................................... 10
F.
Etika Pengajar dan Pelajar Al-Qur’an................................... 13
G.
Hukum Menerima Upah Mengajar Al-Qur’an...................... 16
H.
Hukum Melagukan Al-Qur’an............................................... 17
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan........................................................................... 19
B.
Saran..................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 20
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Alquran merupkan Kitab Suci Umat
Islam,Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup untuk
Umat Muslim.Alquran juga lautan ilmu yang sangat luas dan dalam.semakin
memperdalam Alquran,semakin banyak rahasia kehidupan yang ditemukan,khususnya
bagi umat muslim untuk memperdalam pengetahuannya tentang Alquran.
Sebagai umat islam,Alquran harus
dimuliakan sebagai hukum dan amanat.penghormatan ini diwujudkan dalam etika
terhadap Alquran,mencakup etika membaca,menulis,belajar mengajar,serta membawa
mushaf Alquran.
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas,penulis
membatasi masalah sebagai berikut:
1.jelaskan etika terhadap Alquran?
2.Bagaimana adab membaca Alquran?
3.Apa keutamaan membaca
Alquran?
4.Apa keutamaan mengajarkan Alquran?
5.Bagaimana etika pengajar dan pelajar Alquran?
6.Apa
hukum menerima upah mengajar Alquran?
7. Apa hukum melagukan Alquran?
C.Tujuan
1.Mengetahui etika membaca Alquran.
2.Mengetahui adab membaca Alquran.
3.Mengetahui keutamaan membaca
Alquran.
4.Mengetahui keutamaan mengajarkan
Alquran.
5.Mengetahui etika pengajar dan
pelajar Alquran.
6.Mengetahui hukum menerima upah
mengajar Alquran.
7.Mengetahui hukum melagukan
Alquran.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.Etika Terhadap
Alquran
1.Wajibnya Mengagungkan Alquran
Para ulama’ telah bersepakat bahwa
mengagungkan Alquran hukumnya adalah Wajib.Oleh karena itu,mereka sepakat bahwa
barangsiapa mengingkari satu huruf Alquran (yang telah disepakati sebagai
bagian darinya),atau menambahkan satu huruf ke dalam bacaan Alquran,sedangkan
dia adalah orang alim (mengerti tentang hukum ini),maka orang tersebut dihukumi
sebagai kafir.
Al-Imam al-Hafidz Abu Fadl
al-Qadli Iyadl rahimahullah berkata;”Ketahuilah,sesungguhnya siapa saja yang
meremehkan Alquran atau mushaf atau sesuatu darinya,atau menghinanya,atau
mengingkari satu huruf darinya,atau mendustakan sesuatu yang telah dijelaskan
dalam Alquran baik berupa hukum atau berita,menetapkan apa yang ditiadakan atau
meniadakan apa yang telah ditetapkan,sedangkan dia tau akan hal itu (Alim),atau
meragukan terhadap sesuatu Alquran,maka orang tersebut dihukumi kafir dengan
kesepakatan seluruh orang muslim.begitu juga mengingkari atau menghina atau
meremehkannya Taurat,Injil,dan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah
Ta’ala,maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir.”
Beliau berkata;”Kamu muslimin
telah bersepakat (ijma’) bahwa sesunggguhnya Alquran yang dibaca di seluruh
penjuru,yang tertulis di dalam mushaf dan berada di tangan-tangan orang
muslim,yang telah dikumpulkan diantara dua sampulnya,diawali oleh (surat
al-Fatihah) dan diakhiri oleh (surat an-Nas) adalah kalamullah yang telah
diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam,dan seluruh yang
ada di dalamnya adalah benar.”
Syaikh Abu Utsman bin al-Hadadd[1]
berkata;”Seluruh ahli Tauhid telah bersepakat bahwa pengingkaran terhadap satu
huruf dari Alquran adalah sebuah perbuatan kufur.” Ia adalah Sa’id ibn Muhammad ibn Shabih ibn
al-Haddad al-Maghribi al-Maliki,seorang ahli fiqh,bahasa,hadist,lahir 219 H.dan
wafat 302 H.Karyanya di antaranya Taudhih al-Musykil fi
al-Qur’an,al-Istiwa’,dan Ishmat al-Anbiya.Para ahli fiqih Baghdad telah
bersepakat untuk mencela Ibnu Syanbudz[2]
seorang ahli baca Alquran yang -selain Ibnu Mujahid[3]-
menjadi imam ahli baca Alquran yang banyak dijadikan sandaran qira’ahnya di
Baghdad.Ibnu Syanbudz telah membaca Qur’an dengan huruf-huruf syadz (melenceng)
yang tidak ada di mushaf dan mengajarkan bacaanya itu.Oleh karena itulah para
ahli fiqih memintanya menarik bacaan asingnya serta bertaubat darinya.Ibnu
Syanbudz Ia adalah Muhammad ibn Ahmad ibn Ayyub ibn ash-Shalt ibn Syanbudz
seorang tokoh Qira’ah Baghdad.Ia membacakan qiraah-qirh syadz di atas
mimbar,qiraah yang hanya muncul dari dirinya.Ia juga menuangkan qiroahnya dalam
kitab-kitabnya,di antaranya yang berjudul Ikhtilaf al-Qurra’ dan Syawadz
al-Qira’at.Wafat pada 328 H.di Baghdad di dalam penjara Sultan.Ibnu Mujahid
Ia adalah Ahmad ibn Musa ibn al-Abbas ibn Mujahid al-Baghdadi,tokoh besar Qiroah
di masanya.Ia seorang yang berwajah tampan,lembut akhlaknya,cerdas,lagi
dermawan.Beberapa kitabnya di antaranya “kitab al-Qiro’at al-Kabir”,’Qiro’ah
ibn Katsir”,”Qiro’ah Abi Amr”,dan lain-lain.ia lahir 245 H dan wafat 324 H.Syaikh
Abu Muhammad bin Abi Zaid[4]
telah berfatwa tentang orang yang berkata kepada seorang anak: ’Laknat Allah
semoga menimpa gurumu dan apa yang diajarkannya’,dan orang tersebut berkata:
‘yang saya maksud adalah buruknya adab dan bukannya Alquran’.Beliau berfatwa
bahwa orang yang mengatakan seperti ini harus dihukum. Ia adalah Abdullah ibn Abi Zaid ibn
Abdirrahman al-Qirwani al-Maliki,seorang ahli fiqh dan tafsir.Salah satu
karyanya adalah I’jaz Alquran.Masa hidupnya membentang 310-386 H.
2.Diharamkan untuk menafsirkan
Alquran tanpa dilandasi ilmu yang memadai,demikian juga berbicara tentang makna
Alquran.
3.Haram hukumnya menggunakan
Alquran untuk pemicu keraguan atau berdebat kusir.
Syaikh al-Khattabi
menyampaikan,maksud dari al-mira’ adalah keraguan (asy-syakk).Menurut pendapat
yang lain,maksud al-mira’ adalah berdebt yang dapat menimbulkan
keraguan.menurut pendapat yang lain lagi al-mira’ adalah berdebat kusir yang dilakukan
oleh orang yang mempunyai hawa nafsu dalam permasalahan taqdir dan semacamnya.
4.Orang yang hendak bertanya
tentang permasalahan kenapa suatu ayat di dahulukan daripada ayat yang lain di
dalam mushaf,hendaknya bertanya dengan kata;”Apa hikmah dari masalah ini.....”
5.Makruh mengatakan saya lupa
ayat ini.
Makruh hukumnya mengatakan,”Aku
telah lupa ayat ini,” akan tetapi hendaknya mengatakan,”Aku telah dilupakan
dari ayat ini,”dalam Shahihain terdapat hadist dari Abdullah bin Mas’ud ia
berkata,Rasulullah bersabda:
“Janganlah seseorang dari kalian
mengatakan aku lupa ayat ini dan ini,karena sebenarnya dia telah dijadikan
lupa.”
B.Adab Membaca Alquran
Dianjurkan bagi orang yg membaca
Alquran sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.Berwudhu sebelum membaca Alquran karena ia termasuk dzikir yang paling
utama,dan diharamkan bagi seseorang yang berhadats besar.
2.Membaca Alquran di tempat yang bersih dan
suci,dan lebih utama membaca Alquran di masjid.karena tempat yang kotor dan
najis bukanlah tempat yang layak untuk membaca Alquran,hal tersebut bertujuan
agar menjaga keagungan kitab suci Alquran.
3.Membaca dengan khusyu’,tenang dan
menghadap ke kiblat.
4.Bersiwak atau membersihkan gigi sebelum
membaca Alquran.
5.Membaca ta’awudz pada permulaannya.
Bertujuan untuk meminta perlindungan kepada
Allah dari setan yang terkutuk. Lafadz ta'awuz:
Ø£َعُÙˆْذُ بِاللَّÙ‡ِ Ù…ِÙ†َ الشَّÙŠْØ·َانِ الرَّجِيمِ ْ
Artinya : “Aku
berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk”
6.Membaca basmalah pada permulaan setiap
surat.
بِسْÙ…ِ اللّÙ‡ِ الرَّØْÙ…َÙ†ِ الرَّØِÙŠْÙ…ِ
Artinya:’’Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’’
Bacaan tersebut
sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap kegiatannya.sehingga apa yang
dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapat restu atas pekerjaan
tersebut.
7.Membaca dengan tartil,yaitu membaca
bacaan dengan pelan-pelan dan jelas,agar dapat meresapi dan
menghayati/mempelajari artinya.tidak perlu terburu-buru sehingga dngan demikian
dapatlah kiranya menikmati isi kandungannya (mu’jizatnya).
8.Mengonsentrasikan pikiran dan hati untuk
memikirkan makna yang ia baca,dengan perasaan dan kesadarannya.
9.Meresapi makna yang membuat kita sedih
sehingga kita ingat tentang hal berbuat kebaikan,seperti:ancaman yang membuat
kita takut dan menangis.
10.membacanya dengan melagukan atau dengan
mengindahkan suara,karena Alquran ialah hiasan bagi suara.
11.Membacanya dengan suara yang keras,itu juga dapat membangkitkan
semangat dan menghilangkan pikiran2 lain selain kepada Alquran.
12.Membaca dengan melihat Alquran.membaca
dengan melihat itu mencakup dua ibadah,yakni melihat dan membaca.
13.Menggunakan sebaik-baiknya pelajaran
tajwid yang telah dipelajari.
14.Tidak menghentikan bacaan hingga bacaan
tuntas satu ayat sempurna.
15.Membaca Alquran sesuai dengan urutan
yang ada di Alquran.
16.Kesunahan mengulang-ulang ayat serta
merenungi ayatnya
17.Menangis saat membaca Alquran.
Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali
rahimahullah berkata:
“Menangis ketika membaca Alquran
adalah disunahkan.Cara supaya bisa melakukan hal tersebut adalah dengan
menghadirkan ke dalam hati rasa susah,contohnya dengan cara meresapi tentang
peringatan-peringatan,ancaman-ancaman,serta janji-janji yang terdapat di dalam
Alquran kemudian membayangkan dosa-dosa kita yang berkaitan dengan itu
semua,Apabila yang demikian belum berhasil mendatangkan sedih dan menangis
sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak memiliki kekhusyu’an,maka
menangislah karena hal itu tidak dapat membuat anda menangis,karena yang
demikian sungguh merupakan musibah yang besar”.
18.Memohon karunia Allah sat membaca
Ayat Rahmat.
Jika membaca ayat tentang rahmat
hendaknya ia memohon karunia Allah,dan ketika membaca ayat tentang adzab
hndaknya meminta perlindungan dari keburukan,adzab atau dengan mengucapkan doa:
“Ya Allah,sesungguhnya aku memohon
keselmatan.”
19.Membaca Alquran dengan Bahasa selain
Arab.
Tidak boleh membaca Alquran dengn
menggunakan bahasa selain bahasa Arab,baik dia pandai ataupun tidak dalam
berbahaa Arab,di dalam ataupun di luar shalat.jika ia melakukan ini hal ini di
dalam shalat maka shalatnya tidak sah.
Abu Yusuf dan Muhammad
berpendapat:”boleh,bagi orang yang tidak bisa berbahasa Arab dengan baik dan
tidak boleh bagi yang bisa berbahasa Arab dengan baik.”
Al-Qur’an secara tegas menyatakan
bahwa ia diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab.[5]
C.Keutamaan
Membaca Alquran
1.Mendapatkan pahala yang sangat
banyak.
2. Allah SWT akan mengangkat derajat
orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.Menambah wawasan tentang ilmu
pengetahuan.
4.Membuat hati tenang dan sejuk.
5.Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
6.Mendapat syafa’at (pertolongan) dari
Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah
bersabda, “ Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia
(Al-Qur’an) akan menjadi pemberi syafa’at bagi para pembacannya”.
D.Belajar Al-Qur’an
Cara mempelajari Al-Qur’an adalah dengan
menghafalkan ayat demi ayat.menghafal sedikit demi sedikit.membaca secara
khusyu’ serta memperhatikan bacaan tajwidnya.Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu
mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus di pedomani dalam pengucapan
huruf-huruf dari makhrajnya disamping harus itu pula ia harus memperhatikan
hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan sesudah dalam acara
pengucapannya.
E.Keutamaan
Mengajarkan Alquran
Mengajarkan Al-Qur’an termasuk fardhu
kifayah,dan menghafalkan Al-Qur’an adalah kewajiban bagi umat
muslim.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan
bahwa ia berkata,Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan
Alquran.”[6]
Rasulullah bersabda:
“Siapa yang membaca Alquran dan mengamalkan isinya,ia akan mengenakan
mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat,yang cahanya lebih baik
daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah dunia.Andaikata hal itu
terjadi pada kalian,bagaimana menurut kalian jika hal tersebut didapatkan oleh
orang yang mengamalkan Alqura?”(HR.Abu Daud)[7]
Setiap manusia
selalu mengalihkan perhatiannya apabila ada sesuatu yang baru.Begitu juga yang
terjadi pada umat manusia pada masa Nabi Muhammad SAW.ketika mereka memperhatikan
kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.yang merupakan mukjizat beliau
yang paling agung dan abadi.mereka belum pernah mendengar dan menjumpai kitab
suci apapun terpelihara dan terhormat seperti halnya kitab suci Alquran.
1.Mendapatkan pahala yang berlipat
ganda. Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmdzi, Rasulullah
bersabda, “ Barang siapa yang membaca satu huruf Kitabullah (Al-Qur’an) maka
baginnya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan sepuluh kali pahala.
2.Diampuni dosannya dan tidak disiksa
oleh Allah Swt,. Pada sebuah hadis Ad-Darimi meriwayatkan, rasulullah bersabda,
“ Bacalah Al-Qur’an karena Allah Swt. tidak akan menyiksa hati yang berisi
(hafal) Al-Qur’an dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah hidangan dari Allah,
barang siapa masuk padannya maka ia akan aman dan barang siapa mencintai
Al-Qur’an, maka bergembiralah”.
Sistem Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an:
-Pengajar dan Pelajar harus memiliki
niat yang sungguh-sungguh untuk belajar Al-Qur’an,Ikhlas karena Allah.
-Baik pengajar dan Pelajar harus
menghindari niat yang duniawi.misal:untuk menambah harta kekayaan,mengharapkan
popularitas dan sanjungan/pujian
-Baik Pengajar dan Pelajar harus bersungguh-sungguh
dan senantiasa tekun beribadah.
-Pengajar sebaiknya bersikap
lembut kepada pelajarnya.
-Saling menghormati antara
pengajar dan pelajar,hal tersebut bertujuan menjaga hubungan talisilaturahmi
antara pengajar dan pelajar agar tidak terputus.
-pengajar harus menjelaskan kepada
murid-muridnya sampai mereka faham,dan bagi muridnya
jangan malu untuk bertanya.karna
ada pepatah yang berkata ‘’malu bertanya sesat dijalan’’.
-Baik pengajar maupun pelajar di
wajibkan berpenampilan rapi,harum,bersih,suci dari hadas,berpakaian yang sopan.
-pengajar harus mendoakan pelajar
agar mudah menyerap ilmu dan semoga ilmunya bermanfaat.
F.Etika Pengajar
dan Pelajar Alquran
a.Adab Pengajar
1.Berniat Mengharapkan Ridha Allah
Semata
Diriwayatkan dari Ustadz Abdul
Qasim Al-Qusyairi ia berkata:”Ikhlas ialah meniatkan ketaatannya hanya untuk
Allah semata,maksudnya dengan ketaatannya tersebut ia hanya bertujuan
mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa bukan karena mengharap hal lain dari
respon makhluk,mengharap pujian dari manusia,atau semacamnya selain untuk
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.”
2.Tidak Mengharap Hasil Duniawi
Hendaknya ia tidak
meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara,baik berupa
harta,kedudukan,jabatan,sanjungan,atau semacamnya.
3.Waspada Dengan Sifat Sombong
Hendaklah orang yang dihatinya
ada sifat sombong berhati-hati,karena ada banyak orang yang datang dan belajar
padanya silih berganti.
4.Menghiasi Diri dengan Akhlak
Terpuji
Seorang guru sebaiknya
menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syari’at.sikap
dan sifat yang terpuji dan diridhai Allah:memperlihatkan kegembiraan tanpa
melampaui batas kesopanan,kebijaksanaan,dan kesabaran.
5.Memperlakukan Murid dengan Baik.
Seorang guru sebaiknya
bersifat baik kepada orang yang belajar padanya.
6.Menasihati Murid
Hendaknya guru mengingatkan
Keutamaan mempelajari Alquran agar ia bersemangat,semakin mencintainya,zuhud
terhadap dunia dan tidak tergantung dan tertipu dengannya.mengingatkan untuk
menyibukkan diri dengan Alquran dan ilmu-ilmu syar’i.
7.Memperlakukan Murid dengan Rendah
Hati
Hendaknya tidak mengagungkan
murid,akan tetapi bersikap lembut dan rendah hti pada mereka.
8.Mendidik Murid Memiliki Adab Mulia
Hendaknya guru mendidik muid
dengan adab-adab mulia secara bertahap.
9.Bersemangat Mengajar
Seorang guru diharapkan
bersemangat dalam mengajar,hendaknya ia tidak menyibukkn hatinya dengan hal
lain ketika tengah mengajar.
10.Mendahulukan Giliran yang Lebih
Dahulu Datang
Jika muridnya
banyak,hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang pertama kali datang dan
seterusnya.
11.Niat Lillahi Ta’ala
Para ulama berkata:”jangan
sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki
niat baik.”
12.Tidak Merendahkan Ilmu
Adab yang itekankan dan
harus diperhatikan adalah jangan sampai seorang guru menghinakan ilmu dengan
pergi ke tempat sang murid.
b.Adab Pelajar
1.Berguru Kepada Guru yang
Berkompeten
Bergurulah kepada seorang
yang berkompeten,yang jelas agamanya,nyata ilmunya,dan telah terkenal kapasitas
keilmuannya.
2.Berpenampilan Sopan
Hendaknya ia mendatangi
gurunya dengan keadaan yang sempurna,rapi,suci telah bersiwak,hatinya tidak
sedang disibukkan dengan hal lain,dan tidak masuk sebelum meminta izin jika
gurunya berada ditempat yang memerlukan izin sebelum memasukinya.
3.Bersikap Sopan dan Bergabung
dengan Hadirin
Hendaknya ia juga
bersikap baik dan sopan pada hadirin yang menghadiri majelis sang guru karena
hal itu merupakan adab terhadap guru dan dem menjaga majelisnya.
4.Belajar Saat Suasana Hati Guru
Senang
Hendaknya ia tidak
menyetorkan bacaannya pada sang guru saat kondisi hati sang guru sedang
buruk,bosan,murka,sedih,gembira,lapar,hus,ngantuk,gelisah,dan lain-lain yang
menyushkan dan menyebabkan tidak bisa berkonsntrasi dan bersemangat.
5.Bersemangat Tinggi
Hendklah ia gigih dalam
belajar,gigih disetiap waktu selagi memungkinkan,tidak puas dengan yang sedikit
jika masih mungkin untuk memperoleh yang lebih banyak,tidak mengerjakan sesuatu
yang memberatkan diri yang dikhawatirkan akan menyebabkan kebosnan serta
melenyapkan yang telah ia peroleh.
6.Waktu Belajar:Belajar di Waktu
Pagi Lebih Baik
Hendaknya ia mempelajari
qiraah dari sang guru di pagi hari sebagaimana hadist Nabi:
G.Hukum Menerima Upah Mengajar Al-Qur’an
Beberapa ulama memperbolehkan menerima
honor.pengajaran Al-Qur’an itu ada 3 macam:
1.pengajaran karena Allah dan tidak mengambil upah.
2.pengajaran dengan mengambil upah.
3.pengajaran tanpa syarat,tetapi jika diberi hadiah akan diterima.
Pengajaran model pertama
mendapatkan pahala.
Pengajaran model kedua
diperselisihkan.
Pengajaran model ketiga boleh
menurut pendapat
Semua ulama.sebab,Nabi sendiri
adalah pengajar semua orang dan beliau juga menerima hadiah.Selain itu,juga
berdasarkan hadist tentang orang yang di sengat kalajengking dimana para
sahabat mengobati orang tersebut dengan bacaan surat Al-Fatihah dan mereka
meminta imbalan,Kemudian Nabi bersabda,”Berikanlah bagian untukku dari apa yang
kalian terima itu”[9]
H.Hukum Melagukan Alquran
Para ulama berkata sunahkan
untuk memperbagus dan memperindah suara dalam membaca Alquran selama tidak
melampaui batas.apabila sampai berlebihan seperti sampai menambahi huruf
ataupun menyamarkan huruf maka yang demikian adalah haram.adapun membaca
Alquran dengan suara al-lahn (dikelok-kelokkan),dalam hal ini imam asy-syafi’i
dalam satu pendapatnya beliau memakruhkannya tetapi dalam pendapatnya yang lain
beliau tidak memakruhkannya.
“Di antara perbuatan bid’ah
dalam qira’at adalah talhin/melagukan bacaan yang hingga sekarang ini masih ada
dan disebar luaskan oleh orang-orang yang hatinya telah terpikat dan terlanjur
mengagumi.mereka membaca Alquran sedemikian rupa layaknya sebuah irama atau
nyanyian!”dan diantara macam-macam talhin yang mereka kemukakan sesuai dengan
pembagian irama lagu adalah:
A.Tar’id,yaitu bila qori’ menggetarkan
suaranya,laksana suara yang menggeletar karena kedinginan atau kesakitan.
B.Tarqish,yaitu sengaja
berhnti pada huruf mati namun kemudian dihentakkannya secara tiba-tiba disertai
gerakan tbuh seakan2 sedang melompat atau berjalan.
C.Tathribe,yaitu mendendangkan
dan melagukan Alquran sehingga membaca panjang (mad)bukan pada tempatnya atau
menambahnya bila kebetulan pada tempatnya
D.Tahzin,yaitu membaca Alquran
dengan nada memelas seperti orang yang bersedih sampai hampir menanngis
disertai kehkusu’an dan suara lembut.
E.Tardid,yaitu bila sekelompok
orang menirukan seorang qori’ pada ahir hacaannya dengan stu gaya dari
cara-cara diatas.
Kesimpulan.
Kesimpulan dari makalah ini
ialah,Alquran adalah pedoman manusia yang wajib diamalkan oleh semua umat
muslim.Etika sebelum membaca Alquran,membaca Alquran harus dalam keadaan yang
bersih dan suci,belajar Alquran harus diniati dengan sungguh-sungguh,mengajar
Alquran harus diniati dengan mengharap ridha Allah semata dan tidak boleh
mengharap balasan duniawi.Sebagaimana penjelasan tersebut umat islam memahami
membaca,belajar dan mengajar Alquran yang telah dijelaskan oleh Sahabat
Nabi,Ulama’,dan Nabi Muhammad SAW.Agar diamalkan dengan baik oleh para umat
islam.
Saran
Sebagai Umat Islam,seharusnya kita
mengamalkan Alquran dengan adab yang sesuai dengan nabi muhammad dan para ulama
membaca,mengajar dan mengamalkan Alquran merupakan sebuah keharusan untuk umat
muslim agar manusia menjadi seseorang yang taat pada Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
A. Gazali, Muhammad Iqbal. 2010. Keutamaan Membaca
dan Menghafal al-Qur’an.
Abu zakaria, Imam. 2018. Adab Penghafal Al-Qur’an.
Sukoharjo: Al-Qowam.
Ali Ash-Shaabuuniy, Muhammad. 1998. Studi Ilmu
Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.
Ali Aziz, Moh. 2018. Mengenal Tuntas Al-Qur’an.
Surabaya: Imtiyaz.
Al-Qaththan, Manna. 2005. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Arif, Hidayat. 2011. Cara Kilat Pandai Membaca
Al-Qur’an. Jakarta: Basmallah.
Asy-Syafi’i, Abi Zakariya An-Nawawi. 2018. Menjadi
Sahabat Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Imam Nawawi. Keutamaan Membaca Dan Mengkaji
Al-Qur’an “At-Tibyaan Fii Aadaabi Hamalatil Qur’an”. Konsis Media.
Soenarto, Achmad.Buku Pintar Ilmu Tajwid Dengan
Metode Tanya Jawab. Surabaya: Pustaka Agung Harapan.
Suhaemi Ah, Masrap. Ilmu Tajwid Belajar Membaca
Al-Qur’an Dengan Baik Dan Benar. Surabaya: Karya Utama.
Zuhdi,Achmad dkk.2018.Studi Ilmu al-Qur’an.Surabaya:UIN
Sunan Ampel Press.