Jumat, 04 Oktober 2019

Etika Membaca,Belajar & Mengajar Al quran



    Etika Membaca,Belajar & Mengajar Al quran

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Makalah Mata Kuliah

Studi Al quran

 

Dosen Pengampu:

Prof.Dr.Moh.Ali Aziz,M.Ag

Asisten Dosen:

Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

 

Disusun Oleh:

Laila Anindhita Abidah

 

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

2019






KATA PENGANTAR  
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan.
Terima kasih juga Saya ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, Saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga Saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.  
                                                                 
                                                                                                                      
                           Surabaya, Agustus 2019

                Laila Anindhita Abidah


 


      
                                          Daftar isi

KATA PENGANTAR........................................................................... ii

DAFTAR ISI......................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang........................................................................ 1
B.       Rumusan Masalah................................................................... 1
C.       Tujuan..................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A.    Etika Terhadap Al-Qur’an....................................................... 3
B.     Adab Membaca Al-Qur’an...................................................... 5
C.     Keutamaan Membaca Al-Qur’an............................................. 9
D.    Belajar Al-Qur’an.................................................................... 9
E.     Keutamaan Mengajarkan Al-Qur’an..................................... 10
F.      Etika Pengajar dan Pelajar Al-Qur’an................................... 13
G.    Hukum Menerima Upah Mengajar Al-Qur’an...................... 16
H.    Hukum Melagukan Al-Qur’an............................................... 17


    BAB III PENUTUP
A.      Kesimpulan........................................................................... 19
B.       Saran..................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 20
          







                                       PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

             Alquran merupkan Kitab Suci Umat Islam,Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup untuk Umat Muslim.Alquran juga lautan ilmu yang sangat luas dan dalam.semakin memperdalam Alquran,semakin banyak rahasia kehidupan yang ditemukan,khususnya bagi umat muslim untuk memperdalam pengetahuannya tentang Alquran.
             Sebagai umat islam,Alquran harus dimuliakan sebagai hukum dan amanat.penghormatan ini diwujudkan dalam etika terhadap Alquran,mencakup etika membaca,menulis,belajar mengajar,serta membawa mushaf Alquran.
B.Rumusan Masalah
             Dari latar belakang diatas,penulis membatasi masalah sebagai berikut:
             1.jelaskan etika terhadap Alquran?
             2.Bagaimana adab membaca Alquran?
             3.Apa keutamaan membaca Alquran?
            4.Apa keutamaan mengajarkan Alquran?
            5.Bagaimana etika pengajar dan pelajar Alquran?
            6.Apa hukum menerima upah mengajar Alquran?
            7. Apa hukum melagukan Alquran?

  C.Tujuan
            1.Mengetahui etika membaca Alquran.         
             2.Mengetahui adab membaca Alquran.
             3.Mengetahui keutamaan membaca Alquran.
             4.Mengetahui keutamaan mengajarkan Alquran.
             5.Mengetahui etika pengajar dan pelajar Alquran.
             6.Mengetahui hukum menerima upah mengajar Alquran.
             7.Mengetahui hukum melagukan Alquran.


                                                 BAB 2
                                           PEMBAHASAN         
                          
A.Etika Terhadap Alquran
           1.Wajibnya Mengagungkan Alquran
            Para ulama’ telah bersepakat bahwa mengagungkan Alquran hukumnya adalah Wajib.Oleh karena itu,mereka sepakat bahwa barangsiapa mengingkari satu huruf Alquran (yang telah disepakati sebagai bagian darinya),atau menambahkan satu huruf ke dalam bacaan Alquran,sedangkan dia adalah orang alim (mengerti tentang hukum ini),maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir.
             Al-Imam al-Hafidz Abu Fadl al-Qadli Iyadl rahimahullah berkata;”Ketahuilah,sesungguhnya siapa saja yang meremehkan Alquran atau mushaf atau sesuatu darinya,atau menghinanya,atau mengingkari satu huruf darinya,atau mendustakan sesuatu yang telah dijelaskan dalam Alquran baik berupa hukum atau berita,menetapkan apa yang ditiadakan atau meniadakan apa yang telah ditetapkan,sedangkan dia tau akan hal itu (Alim),atau meragukan terhadap sesuatu Alquran,maka orang tersebut dihukumi kafir dengan kesepakatan seluruh orang muslim.begitu juga mengingkari atau menghina atau meremehkannya Taurat,Injil,dan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Ta’ala,maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir.”
              Beliau berkata;”Kamu muslimin telah bersepakat (ijma’) bahwa sesunggguhnya Alquran yang dibaca di seluruh penjuru,yang tertulis di dalam mushaf dan berada di tangan-tangan orang muslim,yang telah dikumpulkan diantara dua sampulnya,diawali oleh (surat al-Fatihah) dan diakhiri oleh (surat an-Nas) adalah kalamullah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam,dan seluruh yang ada di dalamnya adalah benar.”
              Syaikh Abu Utsman bin al-Hadadd[1] berkata;”Seluruh ahli Tauhid telah bersepakat bahwa pengingkaran terhadap satu huruf dari Alquran adalah sebuah perbuatan kufur.” Ia adalah Sa’id ibn Muhammad ibn Shabih ibn al-Haddad al-Maghribi al-Maliki,seorang ahli fiqh,bahasa,hadist,lahir 219 H.dan wafat 302 H.Karyanya di antaranya Taudhih al-Musykil fi al-Qur’an,al-Istiwa’,dan Ishmat al-Anbiya.Para ahli fiqih Baghdad telah bersepakat untuk mencela Ibnu Syanbudz[2] seorang ahli baca Alquran yang -selain Ibnu Mujahid[3]- menjadi imam ahli baca Alquran yang banyak dijadikan sandaran qira’ahnya di Baghdad.Ibnu Syanbudz telah membaca Qur’an dengan huruf-huruf syadz (melenceng) yang tidak ada di mushaf dan mengajarkan bacaanya itu.Oleh karena itulah para ahli fiqih memintanya menarik bacaan asingnya serta bertaubat darinya.Ibnu Syanbudz Ia adalah Muhammad ibn Ahmad ibn Ayyub ibn ash-Shalt ibn Syanbudz seorang tokoh Qira’ah Baghdad.Ia membacakan qiraah-qirh syadz di atas mimbar,qiraah yang hanya muncul dari dirinya.Ia juga menuangkan qiroahnya dalam kitab-kitabnya,di antaranya yang berjudul Ikhtilaf al-Qurra’ dan Syawadz al-Qira’at.Wafat pada 328 H.di Baghdad di dalam penjara Sultan.Ibnu Mujahid Ia adalah Ahmad ibn Musa ibn al-Abbas ibn Mujahid al-Baghdadi,tokoh besar Qiroah di masanya.Ia seorang yang berwajah tampan,lembut akhlaknya,cerdas,lagi dermawan.Beberapa kitabnya di antaranya “kitab al-Qiro’at al-Kabir”,’Qiro’ah ibn Katsir”,”Qiro’ah Abi Amr”,dan lain-lain.ia lahir 245 H dan wafat 324 H.Syaikh Abu Muhammad bin Abi Zaid[4] telah berfatwa tentang orang yang berkata kepada seorang anak: ’Laknat Allah semoga menimpa gurumu dan apa yang diajarkannya’,dan orang tersebut berkata: ‘yang saya maksud adalah buruknya adab dan bukannya Alquran’.Beliau berfatwa bahwa orang yang mengatakan seperti ini harus dihukum. Ia adalah Abdullah ibn Abi Zaid ibn Abdirrahman al-Qirwani al-Maliki,seorang ahli fiqh dan tafsir.Salah satu karyanya adalah I’jaz Alquran.Masa hidupnya membentang 310-386 H.

               2.Diharamkan untuk menafsirkan Alquran tanpa dilandasi ilmu yang memadai,demikian juga berbicara tentang makna Alquran.

               3.Haram hukumnya menggunakan Alquran untuk pemicu keraguan atau berdebat kusir.

                 Syaikh al-Khattabi menyampaikan,maksud dari al-mira’ adalah keraguan (asy-syakk).Menurut pendapat yang lain,maksud al-mira’ adalah berdebt yang dapat menimbulkan keraguan.menurut pendapat yang lain lagi al-mira’ adalah berdebat kusir yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hawa nafsu dalam permasalahan taqdir dan semacamnya.

               4.Orang yang hendak bertanya tentang permasalahan kenapa suatu ayat di dahulukan daripada ayat yang lain di dalam mushaf,hendaknya bertanya dengan kata;”Apa hikmah dari masalah ini.....”

               5.Makruh mengatakan saya lupa ayat ini.
                Makruh hukumnya mengatakan,”Aku telah lupa ayat ini,” akan tetapi hendaknya mengatakan,”Aku telah dilupakan dari ayat ini,”dalam Shahihain terdapat hadist dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata,Rasulullah bersabda:
“Janganlah seseorang dari kalian mengatakan aku lupa ayat ini dan ini,karena sebenarnya dia telah dijadikan lupa.”

 B.Adab Membaca Alquran
               Dianjurkan bagi orang yg membaca Alquran sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    1.Berwudhu sebelum membaca Alquran  karena ia termasuk dzikir yang paling utama,dan diharamkan bagi seseorang yang berhadats besar.
    2.Membaca Alquran di tempat yang bersih dan suci,dan lebih utama membaca Alquran di masjid.karena tempat yang kotor dan najis bukanlah tempat yang layak untuk membaca Alquran,hal tersebut bertujuan agar menjaga keagungan kitab suci Alquran.
    3.Membaca dengan khusyu’,tenang dan menghadap ke kiblat.
    4.Bersiwak atau membersihkan gigi sebelum membaca Alquran.
    5.Membaca ta’awudz pada permulaannya.
     Bertujuan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Lafadz ta'awuz:                                                                                                                                                                              
                                                      Ø£َعُÙˆْذُ بِاللَّÙ‡ِ Ù…ِÙ†َ الشَّÙŠْØ·َانِ الرَّجِيمِ ْ                                                                                         
Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk”
     6.Membaca basmalah pada permulaan setiap surat.
                                                               Ø¨ِسْÙ…ِ اللّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِÙŠْÙ…ِ              
Artinya:’’Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’’
Bacaan tersebut sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap kegiatannya.sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapat restu atas pekerjaan tersebut.
     7.Membaca dengan tartil,yaitu membaca bacaan dengan pelan-pelan dan jelas,agar dapat meresapi dan menghayati/mempelajari artinya.tidak perlu terburu-buru sehingga dngan demikian dapatlah kiranya menikmati isi kandungannya (mu’jizatnya).
     8.Mengonsentrasikan pikiran dan hati untuk memikirkan makna yang ia baca,dengan perasaan dan  kesadarannya.
     9.Meresapi makna yang membuat kita sedih sehingga kita ingat tentang hal berbuat kebaikan,seperti:ancaman yang membuat kita takut dan menangis.
    10.membacanya dengan melagukan atau dengan mengindahkan suara,karena Alquran ialah hiasan bagi suara.
     11.Membacanya dengan suara yang keras,itu juga dapat membangkitkan semangat dan menghilangkan pikiran2 lain selain kepada Alquran.
     12.Membaca dengan melihat Alquran.membaca dengan melihat itu mencakup dua ibadah,yakni melihat dan membaca.
     13.Menggunakan sebaik-baiknya pelajaran tajwid yang telah dipelajari.
     14.Tidak menghentikan bacaan hingga bacaan tuntas satu ayat sempurna.
     15.Membaca Alquran sesuai dengan urutan yang ada di Alquran.
     16.Kesunahan mengulang-ulang ayat serta merenungi ayatnya
     17.Menangis saat membaca Alquran.
          Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah berkata:
          “Menangis ketika membaca Alquran adalah disunahkan.Cara supaya bisa melakukan hal tersebut adalah dengan menghadirkan ke dalam hati rasa susah,contohnya dengan cara meresapi tentang peringatan-peringatan,ancaman-ancaman,serta janji-janji yang terdapat di dalam Alquran kemudian membayangkan dosa-dosa kita yang berkaitan dengan itu semua,Apabila yang demikian belum berhasil mendatangkan sedih dan menangis sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak memiliki kekhusyu’an,maka menangislah karena hal itu tidak dapat membuat anda menangis,karena yang demikian sungguh merupakan musibah yang besar”.
        18.Memohon karunia Allah sat membaca Ayat Rahmat.
             Jika membaca ayat tentang rahmat hendaknya ia memohon karunia Allah,dan ketika membaca ayat tentang adzab hndaknya meminta perlindungan dari keburukan,adzab atau dengan mengucapkan doa:
 
           “Ya Allah,sesungguhnya aku memohon keselmatan.”
        19.Membaca Alquran dengan Bahasa selain Arab.
             Tidak boleh membaca Alquran dengn menggunakan bahasa selain bahasa Arab,baik dia pandai ataupun tidak dalam berbahaa Arab,di dalam ataupun di luar shalat.jika ia melakukan ini hal ini di dalam shalat maka shalatnya tidak sah.
              Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat:”boleh,bagi orang yang tidak bisa berbahasa Arab dengan baik dan tidak boleh bagi yang bisa berbahasa Arab dengan baik.”
            Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa ia diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab.[5]
  
C.Keutamaan Membaca Alquran         
         1.Mendapatkan pahala yang sangat banyak.
         2. Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
        3.Menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan.
        4.Membuat hati tenang dan sejuk.
        5.Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
        6.Mendapat syafa’at (pertolongan) dari Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda, “ Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia (Al-Qur’an) akan menjadi pemberi syafa’at bagi para pembacannya”.

D.Belajar Al-Qur’an

        
       Cara mempelajari Al-Qur’an adalah dengan menghafalkan ayat demi ayat.menghafal sedikit demi sedikit.membaca secara khusyu’ serta memperhatikan bacaan tajwidnya.Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus di pedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya disamping harus itu pula ia harus memperhatikan hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan sesudah dalam acara pengucapannya.


E.Keutamaan Mengajarkan Alquran         
            Mengajarkan Al-Qur’an termasuk fardhu kifayah,dan menghafalkan Al-Qur’an adalah kewajiban bagi umat muslim.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwa ia berkata,Rasulullah bersabda:
                                                                                                                        
    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Alquran.”[6]
 Rasulullah bersabda:
  “Siapa yang membaca Alquran dan mengamalkan isinya,ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat,yang cahanya lebih baik daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah dunia.Andaikata hal itu terjadi pada kalian,bagaimana menurut kalian jika hal tersebut didapatkan oleh orang yang mengamalkan Alqura?”(HR.Abu Daud)[7]

                  Setiap manusia selalu mengalihkan perhatiannya apabila ada sesuatu yang baru.Begitu juga yang terjadi pada umat manusia pada masa Nabi Muhammad SAW.ketika mereka memperhatikan kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.yang merupakan mukjizat beliau yang paling agung dan abadi.mereka belum pernah mendengar dan menjumpai kitab suci apapun terpelihara dan terhormat seperti halnya kitab suci Alquran.
         1.Mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmdzi, Rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang membaca satu huruf Kitabullah (Al-Qur’an) maka baginnya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan sepuluh kali pahala.

          2.Diampuni dosannya dan tidak disiksa oleh Allah Swt,. Pada sebuah hadis Ad-Darimi meriwayatkan, rasulullah bersabda, “ Bacalah Al-Qur’an karena Allah Swt. tidak akan menyiksa hati yang berisi (hafal) Al-Qur’an dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah hidangan dari Allah, barang siapa masuk padannya maka ia akan aman dan barang siapa mencintai Al-Qur’an, maka bergembiralah”.
 Sistem Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an:
             -Pengajar dan Pelajar harus memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk belajar Al-Qur’an,Ikhlas karena Allah.
             -Baik pengajar dan Pelajar harus menghindari niat yang duniawi.misal:untuk menambah harta kekayaan,mengharapkan popularitas dan sanjungan/pujian
            
             -Baik Pengajar dan Pelajar harus bersungguh-sungguh dan senantiasa tekun beribadah.
             -Pengajar sebaiknya bersikap lembut kepada pelajarnya.
             -Saling menghormati antara pengajar dan pelajar,hal tersebut bertujuan menjaga hubungan talisilaturahmi antara pengajar dan pelajar agar tidak terputus.
             -pengajar harus menjelaskan kepada murid-muridnya sampai mereka faham,dan bagi muridnya

jangan malu untuk bertanya.karna ada pepatah yang berkata ‘’malu bertanya sesat dijalan’’.
           -Baik pengajar maupun pelajar di wajibkan berpenampilan rapi,harum,bersih,suci dari hadas,berpakaian yang sopan.
           -pengajar harus mendoakan pelajar agar mudah menyerap ilmu dan semoga ilmunya bermanfaat.
F.Etika Pengajar dan Pelajar Alquran

      a.Adab Pengajar

           1.Berniat Mengharapkan Ridha Allah Semata
               Diriwayatkan dari Ustadz Abdul Qasim Al-Qusyairi ia berkata:”Ikhlas ialah meniatkan ketaatannya hanya untuk Allah semata,maksudnya dengan ketaatannya tersebut ia hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa bukan karena mengharap hal lain dari respon makhluk,mengharap pujian dari manusia,atau semacamnya selain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.”

           2.Tidak Mengharap Hasil Duniawi
                Hendaknya ia tidak meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara,baik berupa harta,kedudukan,jabatan,sanjungan,atau semacamnya.

           3.Waspada Dengan Sifat Sombong
                Hendaklah orang yang dihatinya ada sifat sombong berhati-hati,karena ada banyak orang yang datang dan belajar padanya silih berganti.

           4.Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji
                 Seorang guru sebaiknya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syari’at.sikap dan sifat yang terpuji dan diridhai Allah:memperlihatkan kegembiraan tanpa melampaui batas kesopanan,kebijaksanaan,dan kesabaran.

           5.Memperlakukan Murid dengan Baik.
                 Seorang guru sebaiknya bersifat baik kepada orang yang belajar padanya.
          
           6.Menasihati Murid
                  Hendaknya guru mengingatkan Keutamaan mempelajari Alquran agar ia bersemangat,semakin mencintainya,zuhud terhadap dunia dan tidak tergantung dan tertipu dengannya.mengingatkan untuk menyibukkan diri dengan Alquran dan ilmu-ilmu syar’i.

           7.Memperlakukan Murid dengan Rendah Hati
                  Hendaknya tidak mengagungkan murid,akan tetapi bersikap lembut dan rendah hti pada mereka.

           8.Mendidik Murid Memiliki Adab Mulia
                  Hendaknya guru mendidik muid dengan adab-adab mulia secara bertahap.

           9.Bersemangat Mengajar
                  Seorang guru diharapkan bersemangat dalam mengajar,hendaknya ia tidak menyibukkn hatinya dengan hal lain ketika tengah mengajar.

           10.Mendahulukan Giliran yang Lebih Dahulu Datang
                   Jika muridnya banyak,hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang pertama kali datang dan seterusnya.
           11.Niat Lillahi Ta’ala
                    Para ulama berkata:”jangan sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”

            12.Tidak Merendahkan Ilmu
                    Adab yang itekankan dan harus diperhatikan adalah jangan sampai seorang guru menghinakan ilmu dengan pergi ke tempat sang murid.

 b.Adab Pelajar

            1.Berguru Kepada Guru yang Berkompeten
                      Bergurulah kepada seorang yang berkompeten,yang jelas agamanya,nyata ilmunya,dan telah terkenal kapasitas keilmuannya.

            2.Berpenampilan Sopan
                       Hendaknya ia mendatangi gurunya dengan keadaan yang sempurna,rapi,suci telah bersiwak,hatinya tidak sedang disibukkan dengan hal lain,dan tidak masuk sebelum meminta izin jika gurunya berada ditempat yang memerlukan izin sebelum memasukinya.

            3.Bersikap Sopan dan Bergabung dengan Hadirin
                       Hendaknya ia juga bersikap baik dan sopan pada hadirin yang menghadiri majelis sang guru karena hal itu merupakan adab terhadap guru dan dem menjaga majelisnya.

            4.Belajar Saat Suasana Hati Guru Senang
                       Hendaknya ia tidak menyetorkan bacaannya pada sang guru saat kondisi hati sang guru sedang buruk,bosan,murka,sedih,gembira,lapar,hus,ngantuk,gelisah,dan lain-lain yang menyushkan dan menyebabkan tidak bisa berkonsntrasi dan bersemangat.

            5.Bersemangat Tinggi
                       Hendklah ia gigih dalam belajar,gigih disetiap waktu selagi memungkinkan,tidak puas dengan yang sedikit jika masih mungkin untuk memperoleh yang lebih banyak,tidak mengerjakan sesuatu yang memberatkan diri yang dikhawatirkan akan menyebabkan kebosnan serta melenyapkan yang telah ia peroleh.

            6.Waktu Belajar:Belajar di Waktu Pagi Lebih Baik
                       Hendaknya ia mempelajari qiraah dari sang guru di pagi hari sebagaimana hadist Nabi:
                                                                    
                                                                                 
               
         
               

            “Ya Allah,berkatilah ummatku pada pagi harinya”[8]

     G.Hukum Menerima Upah Mengajar Al-Qur’an

                     Beberapa ulama memperbolehkan menerima honor.pengajaran Al-Qur’an itu ada 3 macam:
    1.pengajaran karena Allah dan tidak mengambil upah.
    2.pengajaran dengan mengambil upah.
    3.pengajaran tanpa syarat,tetapi jika diberi hadiah akan diterima.
Pengajaran model pertama mendapatkan pahala.
Pengajaran model kedua diperselisihkan.

Pengajaran model ketiga boleh menurut pendapat
Semua ulama.sebab,Nabi sendiri adalah pengajar semua orang dan beliau juga menerima hadiah.Selain itu,juga berdasarkan hadist tentang orang yang di sengat kalajengking dimana para sahabat mengobati orang tersebut dengan bacaan surat Al-Fatihah dan mereka meminta imbalan,Kemudian Nabi bersabda,”Berikanlah bagian untukku dari apa yang kalian terima itu”[9]

H.Hukum Melagukan Alquran
               Para ulama berkata sunahkan untuk memperbagus dan memperindah suara dalam membaca Alquran selama tidak melampaui batas.apabila sampai berlebihan seperti sampai menambahi huruf ataupun menyamarkan huruf maka yang demikian adalah haram.adapun membaca Alquran dengan suara al-lahn (dikelok-kelokkan),dalam hal ini imam asy-syafi’i dalam satu pendapatnya beliau memakruhkannya tetapi dalam pendapatnya yang lain beliau tidak memakruhkannya.
                “Di antara perbuatan bid’ah dalam qira’at adalah talhin/melagukan bacaan yang hingga sekarang ini masih ada dan disebar luaskan oleh orang-orang yang hatinya telah terpikat dan terlanjur mengagumi.mereka membaca Alquran sedemikian rupa layaknya sebuah irama atau nyanyian!”dan diantara macam-macam talhin yang mereka kemukakan sesuai dengan pembagian irama lagu adalah:

                 A.Tar’id,yaitu bila qori’ menggetarkan suaranya,laksana suara yang menggeletar karena kedinginan atau kesakitan.
                 B.Tarqish,yaitu sengaja berhnti pada huruf mati namun kemudian dihentakkannya secara tiba-tiba disertai gerakan tbuh seakan2 sedang melompat atau berjalan.
                 C.Tathribe,yaitu mendendangkan dan melagukan Alquran sehingga membaca panjang (mad)bukan pada tempatnya atau menambahnya bila kebetulan pada tempatnya
                 D.Tahzin,yaitu membaca Alquran dengan nada memelas seperti orang yang bersedih sampai hampir menanngis disertai kehkusu’an dan suara lembut.
                 E.Tardid,yaitu bila sekelompok orang menirukan seorang qori’ pada ahir hacaannya dengan stu gaya dari cara-cara diatas.



Kesimpulan.
         Kesimpulan dari makalah ini ialah,Alquran adalah pedoman manusia yang wajib diamalkan oleh semua umat muslim.Etika sebelum membaca Alquran,membaca Alquran harus dalam keadaan yang bersih dan suci,belajar Alquran harus diniati dengan sungguh-sungguh,mengajar Alquran harus diniati dengan mengharap ridha Allah semata dan tidak boleh mengharap balasan duniawi.Sebagaimana penjelasan tersebut umat islam memahami membaca,belajar dan mengajar Alquran yang telah dijelaskan oleh Sahabat Nabi,Ulama’,dan Nabi Muhammad SAW.Agar diamalkan dengan baik oleh para umat islam.

Saran
          Sebagai Umat Islam,seharusnya kita mengamalkan Alquran dengan adab yang sesuai dengan nabi muhammad dan para ulama membaca,mengajar dan mengamalkan Alquran merupakan sebuah keharusan untuk umat muslim agar manusia menjadi seseorang yang taat pada Allah SWT.








                                       DAFTAR PUSTAKA

A. Gazali, Muhammad Iqbal. 2010. Keutamaan Membaca dan Menghafal al-Qur’an.
Abu zakaria, Imam. 2018. Adab Penghafal Al-Qur’an. Sukoharjo: Al-Qowam.
Ali Ash-Shaabuuniy, Muhammad. 1998. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.
Ali Aziz, Moh. 2018. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya: Imtiyaz.
Al-Qaththan, Manna. 2005. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Arif, Hidayat. 2011. Cara Kilat Pandai Membaca Al-Qur’an. Jakarta: Basmallah.
Asy-Syafi’i, Abi Zakariya An-Nawawi. 2018. Menjadi Sahabat Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Imam Nawawi. Keutamaan Membaca Dan Mengkaji Al-Qur’an “At-Tibyaan Fii Aadaabi Hamalatil Qur’an”. Konsis Media.
Soenarto, Achmad.Buku Pintar Ilmu Tajwid Dengan Metode Tanya Jawab. Surabaya: Pustaka Agung Harapan.
Suhaemi Ah, Masrap. Ilmu Tajwid Belajar Membaca Al-Qur’an Dengan Baik Dan Benar. Surabaya: Karya Utama.
Zuhdi,Achmad dkk.2018.Studi Ilmu al-Qur’an.Surabaya:UIN Sunan Ampel Press.



[1]Syaikh Abi Zakariya An-Nawawi Asy-Syafi’i,Menjadi Sahabat Al-Qur’an(Yokyakarta,2018)hlm 165-166.

[5] Achmad Zuhdi,Studi al-Qur’an(Surabaya,2018)hlm 50.
[7] Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi,Adab Penghafal Al-Qur’an(Sukoharjo,2005)hlm 13.
[9] Syaikh Manna Al-Qathtan,pengantar studi ilmu Al-Qur’an(Jakarta,2005)hlm239.